Archive for May, 2011

Yep, berhubung otak ane sekarang masih konsen dengan training, so ane memang belum bisa terlalu fokus untuk nulis artikel NBA dulu. Coz nulis artikel basket NBA itu butuh hati dan penilaian yang objektif. So, kali ini ane mau nge-share video kocak yang terjadi dalam pertandingan NBA. Yup, pemain-pemain NBA memang diisi dengan talenta-talenta terbaik di muka planet bumi ini. Tapi sehebat-hebatnya pemain NBA, toh mereka tetap aja manusia biasa yang bisa bertindak konyol di lapangan. Entah sengaja ato nggak :mrgreen: . Video “bloopers” di NBA memang udah lama ada yang bikin.  Jamannya Magic Johnson aja dah ada. Sebagian ada yang terjadi dalam NBA Regular season 2011. Well, enjoy the vid aje deh yee 😆 .

NBA Bloopers 2009:

baca selengkapnya

Advertisements

Hehe, lama gak nge-blog. Maklum setelah melewati masa-masa pengangguran sebagai sarjana muda. Alhamdulillah ane sekarang sedang menjalani training. Anyway, hari Sabtu kemaren waktu ane bawa motor kakak saya, Kawasaki Athlete ada sedikit perbincangan menarik dengan teman bapak saya. Kira-kira beginilah alurnya:

Temen bokap: “ wah, ini motor Kawasaki ya??

Saya:” ia om, ini Kawasaki Athlete”

Temen bokap: “ kemaren temen om, ngambil kawasaki kaze dari lelangan”

Saya: “ oh ya, dapet harga berapa om?”

Temen bokap: “ Cuma 150 ribu perak”

Saya: “ ????!!!&*&*#” (sambil garuk2 kepala :mrgreen )

Temen bokap: “mesinnya masih bagus, cuman belepotan oli”

Saya: “(setelah menguasai diri) berarti banyak yah ongkos beresin mesinnya?”

Temen bokap: “ nggak cuman abis 5000 perak, ternyata sil oli-nya doang yang bikin bocor”

Saya: “beruntung banget tuh temen om” (garuk2 kepala lagi :mrgreen: )

Temen bokap: “iya, tuh sampe sekarang masih dipake ke kantor”

baca selengkapnya

Kobe Bryant dan LA Lakers terpaksa pulang lebih awal musim ini. yah, setelah kalah 4-0 dari Dallas Mavericks di semifinal wilayah barat, Kobe harus mengakhiri pengejaran gelar three peat keduanya. Mengecewakan para penggemarnya yang berharap memberikan penghargaan kepada Kobe berupa gelar “the next Jordan.” Jika saja Kobe memenangi NBA Final musim ini, tentunya gelar “the next Jordan” kepada Kobe tidak akan ada lagi yang meragukannya. Dan kini setelah pengejaran three peat kedua Kobe telah pupus, tentunya pergunjingan mana yang lebih hebat antara Kobe dan Michael Jordan sudah pasti akan memanas kembali.

Well, saya akui bahwa saya adalah fans berat Kobe Bryant. Dan saya juga mengakui bahwa Michael Jordan adalah pemain NBA terhebat di era ’83 hingga akhir karirnya di Chicago Bulls tahun 1998. Meskipun di era milennium MJ bermain di NBA kembali bersama Washington Wizards dan membuat rekor mencetak 40+ angka di usia 38+ tahun. Washington Wizards yang diperkuat oleh MJ, bukanlah tim yang terlalu disegani pada waktu itu. Dan walaupun banyak yang bilang, bahwa Michael Jordan dan Scottie Pippen berhasil menjadi juara tanpa keberadaan center yang tangguh. Well, kalo seperti itu kita juga harus memberikan apresiasi terhadap Chauncey Billups yang membawa Detroit Pistons juara di NBA Finals 2004. Tidak tanggung-tanggung Billups mengangkat Pistons juara atas Los Angeles Lakers yang diperkuat dream team, “Shaq-Kobe-Payton-Malone.”Memang, Pistons diperkuat oleh “defensive player of the year” Ben Wallace. Tapi, Ben Wallace bukanlah seorang pemain center dominan seperti halnya Shaquille O’Neal maupun Hakeem Olajuwon. Ben Wallace hanyalah seorang pemain center spesialis defense.

bacaselengkapnya

Ketika saya menonton game 3 hari Sabtu lalu di Vision1, saya berpikir bahwa Lakers mungkin saja berpeluang memenangkan pertandingan dan membuat comeback layaknya Houston Rockets tahun 1994. Di awal pertandingan, saya melihat beberapa perbedaan di kubu Lakers. Andrew Bynum dan Lamar Odom yang agresif dalam mencetak angka dan mendapatkan rebound. Shannon Brown dan Steve Blake yang mendapatkan kepercayaan lebih. The smiling face dari Kobe Bryant yang menyemangati teman2nya agar lebih agresif. Antusiasme dari Phil Jackson untuk memenangkan pertandingan, sehingga terlihat sekali ketika Phil memanggil time out untuk menyemangati Pau Gasol yang bermain lembek. Yap, Pau Gasol tetaplah menjadi “beautiful white swan,” dan mencetak angka jauh dari rata2nya di regular season 2010/2011. Hingga terjadilah insiden “slap chest” dari Phil Jackson. Kita semua yang menonton jalannya pertandingan, tentunya setuju kekalahan Lakers tidak lain dari performa buruknya permainan Pau Gasol yang tidak disiplin dalam menjaga Dirk Nowitzki. Plus, ketidakhadiran Ron Artest di game 3 menjadikan perimeter defense dari Lakers sangat terbuka. Yah, walopun kehadirannya di game ke 4 tidak memberikan pengaruh terhadap perimeter defense dari Lakers, sehingga menyebabkan Dallas Mavericks menceploskan 20 dari 32 tembakan 3 angkanya (NBA record for post season games, NBA record for Jason Terry dengan 9 tembakan tiga angkanya).

baca selengkapnya

Yup, mungkin kita semua pernah nonton film Nicholas Cage dengan Angelina Jolie yang judulnya “Gone in 60 Seconds.” Sebuah film yang menceritakan tentang pencurian mobil yang dilakukan dalam waktu kurang dari 60 detik alias dibawah satu menit. Haha, nyolong mobil dalam semenit, gak kebayang dan jangan dibayangin. Tapi, saya tidak mau membicarakan tentang film tersebut. Saya ingin membagikan momen2 terbaik di NBA yang terjadi dalam waktu kurang dari satu detik. Yoa, under one second. Yah, walopun masih belum secepat kedipan mata tetep layak untuk disimak. Sebenarnya masih banyak, momen-momen under one second dalam NBA games. Tapi karena keterbatasan saya cukup saya berikan 5 saja yang saya tahu :mrgreen: . Cekidot top 5 under one second moment in the NBA, itungan mundur:

baca selengkapnya

Shocking. Desperate. Unbelievable. Frustated. 4 kata yang tepat melihat seri semifinal wilayah barat antara Los Angeles Lakers dengan Dallas Mavericks. Terlalu banyak turn over yang tidak perlu, passing2 tanpa komunikasi, lack of trust dari pemain2 LA Lakers, pemain cadangan yang belum menunjukkan tajinya sebagai pemain tim sekaliber juara back to back disinyalir sebagai faktor kekalahan Lakers di dua game kandang awal, Staples Center. Sebagai pengamat NBA sekaligus penggemar Lakers dan Kobe Bryant, saya hanya bisa speechless dan mengurangi mood untuk menulis.

Seperti yang selalu saya bilang, bahwa kelemahan Lakers adalah berada dalam posisi  juara bertahan dan tidak tanggung2, juara back-to-back dan kini mengejar gelar three-peat. Plus, pemain2 Lakers banyak yang berada dalam kondisi cedera. Tapi itu bukanlah alasan karena Kobe berkata bahwa, “kondisi pemain kami jauh lebih sehat daripada musim lalu.”

baca selengkapnya

Siapapun tahu, kalo persaingan di zona playoff NBA sangat ketat. Tidak peduli peringkat dan home court advantage dari masing2 tim yang bertanding. Saking ketatnya permainan, tidak jarang aksi adu fisik kerap terjadi dilapangan dan menyulut emosi pemain. Ketika emosi pemain lawan telah tersulut, maka biasanya pemain tersebut terpaksa dipanggil oleh pelatih untuk berada di bangku cadangan karena bisa membahayakan kedudukan tim, yang bisa saja pemain tersebut terkena technical foul yang artinya satu angka gratis dari garis free throw untuk tim lawan alias menjadi show stopper di ajang playoff NBA. Di NBA sendiri keberadaan pemain-pemain penyulut emosi atau saya sebut “preman” sudah ada sejak bahkan NBA itu ada sendiri. Dan keberadaan pemain preman  di NBA playoff kini sudah menjadi faktor krusial untuk bertahan di kerasnya atmosfer playoff. Saking krusialnya, kita sampai menyebut Dinasti Tim Duncan di  San Antonio Spurs adalah “Silence dynasty” alias dinasti sunyi, yah karena Tim Duncan bukanlah tipe pemain yang suka menyulut emosi lawan dengan “menyikut” dan melakukan trash talk terhadap pemain lawan. Nah, ada beberapa pemain preman yang cukup annoying terhadap pemain lawan akibat aksi premanisme-nya di lapangan. Berhubung saya tidak terlalu hapal pemain di era ’70-an dan ‘80-an, saya batasi saja sejak era millennium dan saya berikan top 7 preman era millenium di NBA:

baca selengkapnya