Archive for the ‘20-seconds time out’ Category

Janganlah kamu bertanya kepada rumput yang bergoyang maupun angin yang bersemilir tentang 3 hal:

baca selengkapnya

Advertisements

Selama preseason MotoGP, Marco mengalami kecelakaan dua kali. Keduanya di Sepang dan salah satunya menyebabkan helmnya sampai retak. Finish ke 11 dalam debutnya di MotoGP, Simoncelli berhasil finish 16 kali dari 18 race yg dijalani. Hasil terbaiknya adalah finish ke 4 di GP Portugal, hanya selisih 0.06 detik dari Andrea Dovizioso yang berhasil naik podium ketiga. Hingga akhir musim, Super Sic berada di peringkat 8 overall.

Memasuki musim Sophomore-nya, Marco digadang2 akan memberikan kejutan dan meyakinkan publik bahwa dia akan menjadi “the next Rossi.” Finish kelima di GP Qatar, Simoncelli semakin memberikan warna dgn memimpin jalannya GP Jerez. Sayangnya ia terjatuh karena race dalam keadaan hujan. Marco juga mengklaim posisi start terbaiknya di posisi kedua pada GP Estoril. Lagi2 ia terjatuh di lap pertama. Di GP Le Mans Prancis, Simoncelli bersenggolan dengan Dani Pedrosa yang menyebabkan Dani terjatuh dan cedera bahu. Simoncelli sendiri terkena ride-through penalty dan berhasil finish kelima. Panitia keselamatan MotoGP pun mengadakan meeting dengan Marco sebelum Race di Catalonia. Tapi di sirkuit tersebut, Marco justru berhasil meraih pole position pertamanya di MotoGP (0.016 detik didepan Casey Stoner). Sayangnya ia hanya finish di posisi ke 7. Di musim ini, Marco Super Sic juga mendapatkan podium pertamanya yaitu di GP Ceko dan Australia, Phillip Island.

baca selengkapnya

Marco Simoncelli. Dikalangan penggemar MotoGP nama ini tentunya tidak asing. Rambutnya yang kribo dan postur badannya yang menjulang (beruang sirkus detected :mrgreen: ) ini memang termasuk pembalap yang nyentrik. Terutama stylenya dalam membalap di grand prix. Yep, Marco Simoncelli termasuk pembalap favorit WBS. Kenapa?? Jawabannya adalah size does matter. Seperti halnya Valentino Rossi, postur Marco menjulang diatas 180 cm. Tapi Marco memiliki kekurangan, bobotnya yang lebih dari 73 kg kerap kali disinyalir sebagai kelemahannya. Makanya, kemenangan yang diraih Simoncelli tentunya melalui perjuangan dan skill yg mumpuni untuk postur bongsornya.

Mengawali karir membalapnya di Italian Minimoto. Pembalap kelahiran Italia, 20 Januari 1987 (wah, tua’an 8 hari dari mpunya warung ternyata :mrgreen: ) ini berhasil meraih gelar 5 kali berturut dari 1996-2000. Marco Pindah ke kelas 125 cc setelah memenangkan gelar aforementioned dicipline dua kali berturut2. Pada tahun 2002, Simoncelli menjuarai kejuaraan Eropa 125 cc dan ikut serta di GP 125 cc di tahun yang sama. Pada tahun 2003, Marco mengikuti seluruh seri kelas GP 125 cc bersama Matteoni Racing Team menunggangi Aprillia RS 125. Tahun selanjutnya dikelas yang sama, Marco bergabung bersama Rauch Bravo Team menunggangi dan memenangi seri pertamanya di Jerez. Hasil terbaiknya di kelas 125 cc adalah peringkat ke 5 overall bersama tim Nocable it Race.

baca selengkapnya

Jujur aja kalo masih keingetan insiden antara Marco Simoncelli-Colin Edwards-Valentino Rossi di GP Sepang tadi,, ane masih bergidik bro. Serius, benturan antara ketiga pembalap tersebut tadi memang tidak bisa dihindarkan. Simoncelli yang sepertinya kehilangan grip di bagian front-end sehingga menghilangkan traksi dan akhirnya ndlosorr, mungkin biasa saja cara jatuhnya. Yang gak biasa ada pembalap dibelakangnya, Colin Edwards-Valentino Rossi dan hal ini gak bisa dihindari. Kejadiannya persis dengan tragedi Shoya Tomizawa di Moto2. Akhir cerita yang sama pula, Ya menurut situs gilamotor.com Marco Simoncelli dipastikan tewas dalam perjalanan menuju rumah sakit 😦 .

Memang dari tayangan video di youtube terlihat sejak awal ndlosor, Simoncelli gak sengaja ketabrak dibagian kepala. Sehingga helm yg dipakainya langsung copot dari kepalanya. Praktis pelindung vitalnya langsung hilang. Dan parahnya lagi, helm tersebut hancur kebelah dua. Sebuah indikasi jelas. betapa parahnya kecelakaan tersebut. Colin Edwards sendiri hanya cedera gegar otak ringan.

baca selenkapnya

Buat maniak Basket NBA, pertandingan NBA memang lebih menarik daripada Liga Champions maupun Liga Primer. Karena Cuma di basket NBA-lah kita bisa melihat para superstar antar tim bertarung one-on-one. Misalnya, Michael Jordan dengan Dominique Wilkins atau Reggie Miller, Kobe Bryant dengan LeBron James atau Dwyane Wade, maupun pertarungan point guard muda berbakat Derrick Rose dengan Deron Williams. Bahkan para owner tim memasang harga tiket yg tinggi bila terjadi match-up panas ditimnya. Sebut saja, harga tiket pertandingan di Staples Center antara LA Lakers vs Miami Heat lebih mahal daripada LA Lakers dengan Minnesota Timberwolves.

Nah, di artikel ini saya mau membahas match-up yg cukup panas di NBA 2006-2007 Regular Season. Tepatnya, duel antara Steve Nash vs Gilbert “Agent Zero” Arenas. Match-up ini cukup menarik karena pada dua game sebelumnya Gilbert berhasil mempecundangi Kobe Bryant di Staples Center dengan mencetak 60 angka :mrgreen: . Steve Nash sendiri bermain cukup gemilang dengan membawa Phoenix Suns mencetak rekor 15-0 sebelum game melawan Washington Wizards. Suns yg bermain lengkap dengan skuad andalannya Steve Nash-Amare Stoudemire-Shawn Marion tentunya berharap memperpanjang rekor menjadi 16-0. Tapi Arenas juga punya motivasi tersendiri terhadap Mike D’Antoni pelatih Suns. Seperti kita tahu, Mike mencoret nama Arenas dari kandidat roster timnas USA 2006 dalam laga olimpiade. So, pertandingan tentunya berjalan seru dan emosional.

baca selengkapnya