Shocking. Desperate. Unbelievable. Frustated. 4 kata yang tepat melihat seri semifinal wilayah barat antara Los Angeles Lakers dengan Dallas Mavericks. Terlalu banyak turn over yang tidak perlu, passing2 tanpa komunikasi, lack of trust dari pemain2 LA Lakers, pemain cadangan yang belum menunjukkan tajinya sebagai pemain tim sekaliber juara back to back disinyalir sebagai faktor kekalahan Lakers di dua game kandang awal, Staples Center. Sebagai pengamat NBA sekaligus penggemar Lakers dan Kobe Bryant, saya hanya bisa speechless dan mengurangi mood untuk menulis.

Seperti yang selalu saya bilang, bahwa kelemahan Lakers adalah berada dalam posisi  juara bertahan dan tidak tanggung2, juara back-to-back dan kini mengejar gelar three-peat. Plus, pemain2 Lakers banyak yang berada dalam kondisi cedera. Tapi itu bukanlah alasan karena Kobe berkata bahwa, “kondisi pemain kami jauh lebih sehat daripada musim lalu.”

Kobe pernah dalam posisi ini, Kobe tahu hal ini pernah terjadi. Yaitu, ketika memenangkan gelar keduanya bersama Shaquille O’Neal. Dimana Kobe ditanya oleh seorang reporter, “mana yang lebih sulit, mengejar gelar atau mempertahankannya??.” Dan Kobe menjawab, “mempertahankan jauh lebih sulit.” Dan yang membuat saya semakin geram adalah Kobe berkata seperti ini setelah kekalahan game 2 tadi, “we just need to relax.” Well, you can’t relax Kobe. You’ve got to gather with your teammate. Make some meeting and discuss about the lack of trust on your teammate. When the South Florida Miami Heat start to click. You can’t relax. You need to talk if you want a three peat.

Lalu, Apakah Dallas Mavericks menang karena keberuntungan akibat permasalahan di kubu Lakers?? No, far away from “No”. Dallas memang pantas memenangkan game 1 dan 2. Saya memang mengatakan mental Nowitzki dkk yang tidak konsisten dalam 3 musim playoff terakhir. Tapi, saya salah dan saya meminta maaf pada para fans Dallas Mavericks. Jika menonton game pertama dan kedua pagi tadi, raut muka pemain Dallas adalah raut haus akan gelar, jauh dari kegentaran menghadapi sang juara bertahan LA Lakers, raut muka yang jauh dari kefrustasian setelah maju di babak NBA Finals 2006 dan dikalahkan oleh Golden State Warriors musim berikutnya (2007, red.). Jason Terry, Dirk Nowitzki, dan Jason Kidd dkk tidak tersulut emosinya ketika mendapat panggilan2 pelanggaran yang sebenarnya memang, “I don’t know what to say” mungkin panggilan wasit homecourt advantage. Mereka benar2 siap menantang Los Angeles Lakers.

Setelah dua game ini, Lakers memang pantas diberi peringatan lampu kuning. Mereka kini berada dalam posisi yang memang tidak menguntungkan setelah tertinggal 2-0. Yah, namanya juga lampu kuning bisa menjadi lampu merah atau mungkin menjadi lampu hijau, yang artinya Lakers bisa saja memenangkan seri ini. Apakah pernah terjadi sebuah tim dengan home court advantage dan tertinggal 2-0 kemudian berbalik memenangkan seri playoff tersebut?? Pernah, kok bro and sis sekalian. Kejadian tersebut, terjadi pada tahun 1994 ketika seri semifinal wilayah barat antara Houston Rockets vs Phoenix Suns. Skenario yang hampir mirip dengan kasus LA Lakers vs Dallas Mavericks saat ini. Dimana ketika itu, Houston Rockets yang dipimpin oleh Hakeem Olajuwon (my favorite players,🙂 ) tertinggal 2-0 oleh Phoenix Suns yang dipimpin oleh Charles Barkley. Tidak tanggung-tanggung, Houston justru memimpin 20+ angka memasuki kuarter empat dan bwuuusshh, Phoenix mengejar plus memenangkan pertandingan tersebut. Sebelum akhirnya, Vernon Maxwell pemain Houston step up dan memimpin Rockets memenangkan 4 pertandingan berturut-turut plus mengeliminasi Phoenix Suns.

So, melihat kasus Houston Rockets vs Phoenix Suns, boleh saja penggemar Lakers berharap agar Lakers maju ke babak final wilayah barat. Tapi Lakers memang membutuhkan pemain2 selain Kobe-Bynum-Gasol dan Lamar Odom untuk step up. Lakers memang kalah dari bench points, tapi kekalahan Lakers lebih disebabkan akibat turn over tidak penting dan transisi defense yang sangat buruk. Andrew Bynum sangat kesal dengan rotasi defense pemain Lakers yang menyebabkan ia harus menjaga point guard lawan seperti di ronde pertama, ia terpaksa menjaga Chris Paul. Dan kini Bynum terpaksa berkali-kali menjaga Jason Kidd akibat screen-roll pemain Mavericks. Well, game masih panjang untuk sebuah perbaikan dari kubu Lakers. But… silahkan komentarnya bro and sis sekalian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s