Team-Hates Rivalry: Wayne Gardner vs Mick Doohan

Posted: 3 February 2012 in Louder than a Bomb, MotoGP
Tags: , , , ,

Well, dunia balap motor memang berbeda dengan olahraga seperti sepak bola atau basket. Apa yang membedakan adalah dalam sepakbola atau basket, masing-masing anggota dalam sebuah tim memiliki tujuan yang sama, yaitu menang. Pengecualian dalam kasus Shaq-Kobe di LA Lakers. Walaupun pada akhirnya setelah Phil Jackson pensiun melatih Lakers, terungkap bahwa konflik antara Shaq vs Kobe di kubu Lakers yang kesohor itu semata hanya manajemen konflik dari sang Zen Master, Phil Jackson. Hal yang sama terjadi dalam kasus Valentino Rossi vs Jorge Lorenzo di tim FIAT Yamaha dulu. Yups, manajemen konflik tersebut meang terbukti menguntungkan bagi FIAT Yamaha. Karena dari konflik tersebut, baik Jorge maupun Rossi keduanya ingin membuktikan siapa yang terbaik diantara mereka berdua. Hasilnya, musim 2008 dan 2009 Yamaha berhasil meraih gelar juara dunia sekaligus gelar konstruktor. Kenapa bisa begitu?? Yah, karena tidak ada pembalap berbakat dengan naluri kompetisi overdosis yang rela menjadi pembalap pelapis alias rider kedua. Seperti yang terjadi antara Wayne Gardner dengan Mick Doohan. Padahal mereka berada di tim yang sama dan berasal dari negara yang sama pula, AustraliašŸ˜Æ

Wayne “Digger” Gardner adalah pembalap utama Honda di tim Rothmans. Dia berhasil menjadi orang Australia pertama yang menjadi juara dunia GP 500 pada tahun 1987.Ā  Kemudian pada tahun 1989, seorang pemuda Australia yaitu Michael “Crocodile Aussie” Doohan bergabung ditim yang sama dengan Wayne Gardner. Kedatangan Doohan dikelas GP 500 persis seperti Jorge Lorenzo ketika naik kelas ke MotoGP. Hanya saja Honda NSR 500 generasi awal yang kesohor dengan kebuasannya memang dibangun berdasarkan style Wayne Gardner yang terkenal dengan ultra-agressive. Berbeda dengan Lorenzo yang bergabung dengan FIAT Yamaha dengan YZR M1 yang dibangun dengan style Valentino Rossi yang kebetulan cocok bagi banyak pembalap. Tapi, satu hal yang sama antara Doohan dengan Lorenzo dimusim rookienya adalah keduanya sering jatuh. Hasilnya, Doohan mengakhiri musim rookienya diperingkat ke 9.

Ini komentar Doohan disalah satu buku biografinya:

“I guess Wayne felt threatened. He didn’t like the idea of other Australians coming through – he wanted to be the hometown hero.” My crew chief Jeremy Burgess would talk about Wayne a lot. Wayne this, Wayne that, which was fine. I was the new boy, but eventually I spat the dummy and said to him. ‘Do I look like Wayner Gardner? Are my initials WG?’ From that day we got on better.”

“Saya rasa Wayne merasa terancam. Dia tidak suka dengan kedatangan pembalap Australia lainnya. Dia ingin menjadi satu-satunya pembalap pahlawan dari Australia. Kepala mekanik saya, Jeremy Burgess selalu berbicara banyak tentang Wayne. Burgess selalu berbicara Wayne ini, Wayne itu. Saya masih anak baru. Hal tersebut akhirnya membuat saya bertengkar dengan Jeremy dan berkata kepadanya: ‘Apakah saya seperti Wayne Gardner? Apakah inisal saya WG?’ Sejak hari itu hubungan saya dengan Jeremy Burgess menjadi lebih baik.”
Setelah mengakhiri musim rookienya dengan berada diperingkat ke 9 dan hasil terbaiknya adalah podium ketiga. Doohan berhasil mendapatkan podium pertamanya di tahun 1990. Wayne pun merasa geram karena ia mulai dibayang-bayangi oleh Doohan. Hal tersebut segera saja membuat konflik dikubu Rothmans Honda, Doohan yang mengoleksi poin lebih banyak daripada Wayne Gardner meminta kepada Honda agar ia diberikan spare-parts yang sama dengan Wayne agar ia bisa lebih kompetitif. Sayangnya Honda belum mengabulkan permintaan Doohan tersebut dengan alasan ia masih muda dan masih punya banyak waktu.
Pada akhir musim balap 1990, Doohan diminta oleh pihak HRC Honda untuk tetap megembangkan NSR 500 yang baru. Sedangkan Wayne Gardner pulang ke negaranya Australia. Tentu saja Mick yang mengembangkan NSR 500 agar sesuai dengan riding stylenya berhasil mengalahkan Gardner, dan pada akhir musim 1991 Doohan berada diperingkat ketiga klasemen. Sedangkan Wayne berada diperingkat lima klasemen. Sehingga Doohan lebih berhak menjadi pembalap utama ditimnya pada musim selanjutnya. Melihat kasus konflik antara Doohan vs Gardner, untung saja Valentino Rossi tidak pernah satu garasi dengan Massimiliano Biaggi alias Mad Max Biaggi. Kalo sampai kejadian,, hmmm tidak terbayang perang mulut antara kedua roman emperor tersebut:mrgreen: .
Comments
  1. g.santi says:

    good competion good performance

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s