Prediksi Los Angeles Lakers di Playoff 2011

Posted: 16 April 2011 in sounds of the game
Tags: , , , , , , , , ,

Akhirnya sempet juga nulis soal Lakers ini. Musim ini terdapat catatan menarik, yaitu jumlah  rekor-kalah LA Lakers sama dengan Dallas Mavericks (57-25). Hanya saja Lakers unggul di season series matchup dengan rekor 2-1. Los Angeles Lakers merupakan tim favorit juara yang rapuh. Dalam artian pemain mereka rapuh alias rentan terhadap cedera. Sebut saja Andrew Bynum yang harus absen di beberapa games awal akibat pemulihan cedera lutut, kemudian back up center mereka Theo Ratliff yang juga harus cedera. Cedera kedua pemain tersebut menyebabkan Pau Gasol bermain dengan jumlah menit yang banyak (terus terang ini cukup merugikan Lakers). Lalu Matt Barnes yang juga cedera di tengah musim dan harus absen beberapa game. Pemain bintang mereka pun, Kobe Bryant juga rentan terhadap cedera yang harus dipikulnya dalam beberapa musim terakhir tanpa operasi atau pengobatan yang signifikan, untuk menghindari cedera yang tidak diinginkan maka Phil Jackson dan Lakers melimit minute play Kobe dengan bermain rata-rata 33.9 MPG (terendah setelah musim keduanya di NBA). Mereka memang tim favorit juara yang hebat. Tapi si hebat pun bukanlah unbreakable man. Oleh karena itu, musuh utama mereka adalah cedera yang mengintai para pemainnya.

Selain cedera, mereka juga termasuk tim yang tidak konsisten di regular season. Kobe Bryant pun mengakui bahwa timnya adalah tim yang aneh (The Weird team). Tim ini mengalami kekalahan 3 kali beruntun sebelum memasuki jeda All Star(termasuk kekalahan dari Cleveland Cavaliers, tim dengan rekor terburuk musim ini). Kemudian mencengangkan penggemarnya dengan rekor 17-1 setelah jeda All Star. Dan mereka kembali mengecewakan para pendukungnya dengan 5 kali kekalahan beruntun. Ini adalah hal yang wajar bagi para tim juara bertahan. Kehilangan focus dan terkena cedera adalah dua hal yang pasti menghantui tim juara bertahan. Sebuah tim yang bermain di level NBA Finals memerlukan usaha yang tidak hanya 100 % untuk memenangkan satu pertandingan, tapi  lebih dari itu bahkan harus 120 %.

Inilah drama yang sama dengan perolehan gelar three-peat kedua Phil Jackson pada saat melatih Chicago Bulls. Drama yang sama ketika Scottie Pippen cedera punggung di awal musim 1997/1998 dan menyebabkan Chicago Bulls kesulitan meraih kemenangan, sebelum akhirnya mengakhiri musim dengan rekor 62-20.

Tentu saja kita berharap bahwa drama ala opera la traviata di Hollywood-nya NBA. Dan berharap saja drama tersebut berakhir happy ending. Karena siapa pula yang mengharapkan San Antonio Spurs di Finals series seperti yang saya sebut pada artikel sebelumnya. Meskipun SA Spurs adalah tim unggulan, tapi secara market mereka bukanlah yang terbaik. Kita mengharapkan matchup antara Kobe dengan LeBron James, Derrick Rose, Dwyane Wade, dan re-match dengan Ray Allen dan Paul Pierce. Apalagi musim ini adalah musim terakhir Phil Jackson sebagai head coach di LA Lakers. Dan meskipun Lakers ada kemungkinan tidak memiliki home court advantage, kita tetap menginginkan Lakers-lah yang juara. Semata-mata untuk melengkapi kehebatan Michael Jordan yang belum dimiliki Kobe Bryant, yaitu menjadi juara tanpa home court advantage. Here comes the greatest season.  I’m still believes. Go Lakers. Go to the Finals and get the Three-Peat Quest.

semoga berguna🙂

Comments
  1. […] 92-88 dan menyamakan kedudukan menjadi 2-2 di playoff series. Seperti yang sudah saya bilang pada artikel sebelumnya, musuh terbesar Lakers adalah fokus, motivasi, dan cedera para pemainnya. Seperti kita lihat Pau […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s